Di tengah masyarakat, terdapat sebuah elemen yang mempunyai peran sentral, merupakan tradisi. Dari waktu ke waktu tradisi mempunyai pengaruh mendalam kepada karakter kolektif masyarakat. Melainkan, masyarakat juga berkontribusi dalam membentuk serta mewujudkan tradisi itu sendiri.
Apakah detikers sudah paham makna dari tradisi? Agar memahaminya secara mendalam, detikers dapat membaca review berikut ini.

Pengertian Kebiasaan
Merujuk kepada buku Pengantar Antropologi: Sebuah Ringkasan Mengetahui Antropologi oleh Ginsu Nurmansyah, Nunung Rodliyah, Recca Hapsari, konsep tradisi atau kebudayaan bersumber dari bahasa Sansekerta, merupakan buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau logika), seluruh hal yang terkait dengan budi dan logika manusia.

Dalam bahasa Inggris, istilah kebudayaan diartikan sebagai culture, yang berakar dari kata Latin colere, yang berarti mengolah atau melakukan. Ini juga dapat diinterpretasikan sebagai pengerjaan mengolah tanah atau berkebun.

Meski berdasarkan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), tradisi merupakan pikiran; adat istiadat: menyelidiki bahasa dan  slot spacemansesuatu mengenai kebudayaan yang sudah berkembang (berbudi pekerti, maju); serta sesuatu yang sudah menjadi tradisi dan sukar diubah.

Pengertian Kebiasaan Menurut Para Ahli
Menurut pendapat sejumlah spesialis, berikut ini pengertian-pengertian tradisi:

Menurut C Wissler, C Kluckhohn, A Davis, A Hoebel: tradisi merupakan seluruh perbuatan yang semestinya dibiasakan dengan belajar.
Menurut Bakker: tradisi merupakan pengerjaan penciptaan, publikasi, dan pengolahan skor-skor manusiawi. Ini melibatkan usaha untuk membudayakan materi alam mentah dan produk-produk yang dihasilkannya. Dalam konteks bahan alam, baik yang terkait dengan diri maupun lingkungan fisik dan sosial, skor-skor diidentifikasi dan diperkembangkan sampai menempuh tahap kesempurnaan. Memasyarakatkan alam, menghargai manusia, serta mengkoreksi relasi antarindividu dan manusia dengan lingkungannya menjadi satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan.
Menurut EB Tylor (1871): tradisi merupakan suatu kompleksitas yang melibatkan pengetahuan, keyakinan, seni, etika, hukum, adat istiadat, serta pelbagai kemampuan dan tradisi yang didapat oleh manusia sebagai member masyarakat. Dengan kata lain, kebudayaan merangkum seluruh yang dipelajari atau dibatasi oleh manusia sebagai komponen dari komunitasnya. Ini mencakup seluruh pola perilaku normatif yang didapat via pembelajaran. Hal ini mencakup cara-cara berdaya upaya, perasaan, dan bertingkah yang pelbagai.
Menurut Koentjaraningrat (1923-1999): antropolog asal Indonesia ini mendefinisikan bahwa tradisi merupakan seluruh cara gagasan dan rasa, perbuatan, serta karya yang dijadikan manusia dalam kehidupan bermasyarakat yang dijadikan miliknya dengan cara belajar yang dikutip dari buku Antropologi SMA/MA Kelas XI.
Mohammad Hatta: dikutip dari buku Sejarah & Kebudayaan Islam Waktu Klasik (Abad VII-XII M) oleh Faisal Ismail, Moh Hatta yang dikenal sebagai tamatan sarjana Muslim tersebut memasukkan agama sebagai elemen kebudayaan.
\\\”Kebudayaan merupakan ciptaan hidup dari suatu bangsa. Kebudayaan banyak sekali macamnya. Menjadi pertanyaan apakah agama itu suatu ciptaan manusia atau bukan. Keduanya bagi saya bukan soal. Agama merupakan juga suatu kebudayaan karena dengan beragama manusia dapat hidup dengan gembira. Karenanya saya katakan agama merupakan komponen ketimbang kebudayaan…,\\\” kata Hatta pada cuplikan pidatonya dalam Kongres Kebudayaan Pertama tahun 1948 di Magelang.