Sebagai negara yang kaya akan seni dan adat istiadat, Indonesia dihuni berjenis-jenis macam suku yang menetap di seluruh pelosok nusantara. Kearifan lokal serta adat istiadatnya menjaga kelestarian alam Indonesia hingga sanggup terjaga dengan baik dan bersinergi dengan alam.

Nama Baduy terlesip diantara banyaknya suku yang ada di Indonesia. Kelompok etnis Sunda ini hidup bersama alam di Pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten.

Suku Baduy terbagi dalam dua kelompok yang disebut dengan Baduy Dalam dan Baduy Luar. Perbedaan yang paling mendasar slot spaceman dari kedua suku ini ialah dalam mengerjakan pikukuh atau tata tertib adat dikala pengerjaannya. Seandainya Baduy Dalam masih mengontrol teguh adat dan mengerjakan tata tertib adat dengan baik, sebaliknya tidak dengan saudaranya Baduy Luar.

Orang-orang Baduy masih seperti itu kuat menggenggam adat istiadat turun-temurun dari leluhur mereka. Suku Baduy Dalam pun sama sekali tidak membolehkan pengaplikasian benda-benda dari luar kampung mereka.

Sementara itu, suku Baduy Luar cenderung lebih toleran terhadap pengaruh asing. Wisatawan diizinkan memakai benda-benda yang dibawa dikala bertandang ke perkampungan Baduy Luar.

Sedangkan seperti itu, suku Baduy Luar juga memilih konsisten menjaga relasi selaras dengan alam yang sudah menjadi warisan para leluhur.

Berikut pola adat istiadat dikehidupan suku baduy.

MCK alami
Suku Baduy Luar tidak memiliki kakus di dalam rumahnya. Bilik untuk mandi yang terdapat di beberapa titik di tepi sungai pun tidak menyediakan lubang khusus buang air.

Namun, beberapa rumah yang khusus diperuntukkan bagi tamu atau wisatawan dari luar kampung, sekali-sekali dilengkapi fasilitas kakus meski sekadarnya.

Tidak ada apotik.
Pegunungan Kendeng yang menjadi tempat beralamat suku Baduy Luar rupanya betul-betul sumber kehidupan. Selain menyediakan air berlimpah, tanaman obat yang tumbuh liar pun tidak keok banyak.

Ada daun kaca piring buat meredakan demam, daun berenuk untuk sakit kepala, pangkal sirih sebagai obat mata, hingga pangkal tangkai daun salak yang mujarab menyumbat diare.

“Segala macam tanaman obat seharusnya diminum dengan air mentah,” jelas Jakam, warga Baduy Luar yang menetap di Kampung Cicakal.

Memasak dengan kayu bakar
Kayu bakar menjadi salah satu bahan pokok yang seharusnya dipenuhi untuk kebutuhan sehari-hari suku Baduy Luar.

Sedangkan sudah mengetahui praktik membeli makanan dari luar kampung, suku Baduy Luar masih memakai cara tradisional dalam mengolahnya, ialah memakai kayu bakar.

Oleh sebab itu, stok kayu bakar seharusnya senantiasa tersedia di dapur ataupun bagian belakang rumah.

Arsitektur kukuh tanpa semen
Bahan-bahan konstruksi semacam batu bata atau semen yang biasa diaplikasikan di kota tidak akan dijumpai di perkampungan Baduy Luar.

Fungsi semen dan batu bata digantikan oleh kayu, bambu, dan bahan-bahan alami lainnya.

Potongan-potongan kayu diaplikasikan untuk menopang rumah. Anyaman bambu diaplikasikan sebagai lantai dan dinding rumah.

Sementara itu, bilah-bilah bambu pun sanggup dirangkai membentuk jembatan besar yang melintangi sungai.

Untuk melekatkan bahan-bahan tadi, warga Baduy Luar memakai serat rotan atau serat kayu yang dapat dengan mudah didapatkan dari hutan.